Nama : Muhammad Fadilla Adithama
Kelas : 1KA23
NPM : 17114186
A. PENGERTIAN MASYARAKAT
Beberapa definisi mengenai masyarakat
dari para sarjana, seperti misalnya:
1.
R. Linton :
masyarakat adalah setiap kelompook manusia yang telah lama hidup dan bekerja
sama, sehingga mereka ini dapat mengorganisasikan dirinya berpikir tentang
dirinya dalam kesatuan social dengan batas – batas tertentu
2.
MJ.
Herkovits : masyarakat adalah kelompok individu yang diorganisasikan dan
mengikuti satu cara hidup tertentu
3.
S.R.
Steinmetz : masyarakat adalah kelompok manusia yang terbesar, yang meliputi
pengelompokan – pengelompokan manusia yang lebih kecil yang mempunyai
perhubungagn yang erat dan teratur
Masyarakat dalam arti luas
merupakan keseluruhan hubungan-hubungan dalam hidup bersama dan tidak dibatasi
oleh lingkungan, bangsa dan sebagainya. Masyarakat dalam arti sempit yaitu
sekelompok manusia yang dibatasi oleh aspek-aspek tertentu misalnya teritorial,
bangsa, golongan dsb.
Dari definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa masyarakat
harus mempunyai syarat- syarat seperti :
- Harus ada pengumpulan
manusia
- Telah bertempat tinggal
dalam waktu lama disuatu daerah tertentu
- Adanya aturan atau
undang-undang yang mengatur mereka untuk menuju kepada kepentingan dan tujuan
bersama.
Dipandang dari cara terbentuknya, masyarakat dapat dibagi dalam :
1. Masyarakat paksaan : negara, tawanan
2. Masyarakat merdeka, yang terbagi dalam :
a. masyarakat natur, masyarakat yang terjadi dengan sendirinya
seperti gerombolan (horde), suku (stam) yang bertalian karena hubungan darah.
b. masyarakat kultur, masyarakat yang terjadi karena kepentingan
keduniaan atau kepercayaan, contoh koperasi, kongsi perekonomian, gereja dsb.
B. MASYARAKAT PERKOTAAN
Masyarakat perkotaan sering disebut juga sebagai urban community,
pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat-sifat kehidupan
seta ciri-ciri kehidupan yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Ada beberapa
ciri yang menonjol pada masyarakat kota yaitu :
1. Kehidupan keagaamaan kurang apabila dibandingkan dengan kehidupan
keagamaan di pedesaan
2. Pada umumnya orang kota mengurus dirinya sendiri tanpa bergantung
pada orang lain. Kehidupan keluarga dikota sukar untuk disatukan karena
perbedaan kepentingan, agama, paham politik dsb.
3.
Pembagian kerja dalam
masyarakat kota jauh lebih tegas dan mempunyai batas-batas nyata.
4. Kemungkinan mendapatkan pekerjaan lebih banyak diperoleh.
5. Jalan pikiran yang rasional, menyebabkan interaksi yang terjadi
lebih didasarkan pada kepentingan daripada faktor pribadi.
6. Jalan kehidupan yang cepat di kota menyebabkan pentingnya faktor
waktu bagi warga kota.
7. Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata sebab kota lebih
terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.
Perbedaan desa dengan kota
Dalam menentukan suatu masyarakat sebagai kota atau desa dapat
dilihat dari ciri-cirinya seperti :
1. Jumlah kepadatan peduduk, kota memiliki penduduk yang lebih banyak
daripada desa.
2. Lingkungan hidup di pedesaan terasa lebih dekat dengan alam bebas,
lingkungan perkotaan sebagian besar dilapisi beton dan aspal.
3. Mata pencaharian masyarakat desa berada pada sektor ekonomi primer
yaitu bidang agraris, sedangkan kota sektor ekonomi sekunder yaitu industri,
dan ekonomi tersier yaitu bidang pelayanan jasa.
4. Corak kehidupan sosial di desa masih homogen, sebaliknya di kota
sangat heterogen karena disana saling bertemu suku bangsa, agama, kelompok dan
masing-masing memliki kepentingan berlainan.
5. Stratifikasi sosial di kota jauh lebih komplek dibanding desa.
Misalnya mereka yang memiliki keahlian pekerjaan yang memerlukan banyak
pemikiran memiliki kedudukan dan upah yang tinggi dibanding tenaga kasar. Hal
ini berakibat perbedaan yang menyolok antara kaya dan miskin.
6. Mobilitas sosial di kota jauh lebih tinggi dibanding desa, baik
secara vertikal yaitu perpindahan kedudukan yang lebih tinggi atau rendah,
maupun perpindahan kedudukan yang setingkat atau horizontal.
7. Pola interaksi pada masyarakat pedesaan adalah motif-motif sosial,
dalam interaksi sosial selalu diusahakan agar kesatuan sosial tidak terganggu,
konflik atau pertentangan sosial sebisa mungkin dihindarkan. Sebaliknya pada
masyarakat perkotaan dalam interaksi lebih dipengaruhi oleh ekonomi daripada
motif sosial. Selain itu juga motif non sosial seperti politik, pendidikan.
8. Solidaritas sosial di desa lebih tinggi dibanding kota
9. Sedangkan dalam hirarki sistem administrasi nasional kedudukan
kota lebih tinggi daripada desa, semakin tinggi kedudukan suatu kota dalam
hirarki tersebut maka kompleksitasnya semakin meningkat/ makin banyak kegiatan
disana.
Perkembangan kota merupakan manifestasi dari pola – pola kehidupan
social, ekonomi, kebudayaan, dan politik. Secara umum dapat dikenal bahwa suatu
lingkungan perkotaan seyogyanya mengandung 5 unsur meliputi :
1. Wisma, mengembangakan daerah perumahan sesuai dengan pertambahan
penduduk serta memperbaiki lingkungan perumahan yang telah ada.
2. Karya, yaitu penyediaan lapangan kerja. Dapat dilakukan dengan
enyediaan ruang untuk kegiatan perindustrian, perdagangan, pelabuhan, terminal
serta kegiatan lain.
3. Marga, unsur ini merupakan ruang perkotaan
yang berfungsi untuk menyelenggarakan hubungan antara suatu tempat dengan
tempat lain dalam kota atau dengan kota-kota
4. Suka, unsur ini merupakan bagian dari ruang perkotaan untuk
memenuhi kebutuhan penduduk akan fasilitas hiburan, rekreasi, kebudayaan, pertamanan,
dan kesenian
5. Penyempurna, unsur ini merupakan bagian yang penting bagi suatu
kota. Tetapi belum secara tepat tercakup ke dalam keempat unsur termasuk
fasilitas pendidikan dan kesehatan, fasilitas keagamaan, perkuburan kota, dan
jaringan utilitas kota
C. MASYARAKAT
PEDESAAN
Menurut Sutarjo Kartohadikusuma adalah satu kesatuan hukum
dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan sendiri. Menurut
bintarto, desa merupakan perwujudan kesatuan geografi, sosial, ekonomi,
politik, dan cultural yang terdapat di suatu daerah dalam hubungan dan
pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain. Sedangkan menurut Paul H.
Landis desa adalah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa dengan ciri-ciri :
1. Mempunyai pergaulan hidup yang saling mengenal antara rbuan jiwa
2. Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap
kebiasaan
3. Cara berusaha (ekonomi) adalah agraris, yang dipengaruhi oleh
iklim, keadaan alam, kekayaan alam, sedang pekerjaan yang bukan agraris adalah
bersifat sampingan.
Secara umum yang menjadi ciri-ciri masyarakat pedesaan antara lain
:
1. Antara warga mempunyai hubungan yang mendalam dan erat bila
dibandingkan dengan masyarakat di luar batas-batas wilayahnya
2. Sistem kehidpan umumnya berkelompok denagan dasar kekeluargaan
(gemeinscharft atau paguyuban)
3. Sebagian warga masyarakat pedesaan hidup dari pertanian, pekerjaan
yang bukan pertanian merupakan pekerjaan part time sebagai pengisi waktu luang.
4. Masyarakat homogen seperti dalam mata pencaharian, agama, adat
istiadat dsb
Studi Kasus
contohnya dalam lapangan
pekerjaan, sebagian besar masyarakat pedesaan lebih tertarik untuk mencari
nafkah di kota, karena di kota lebih luas lapangan kerjanya dari pada di desa,
lain halnya masyarakat kota yang selalu memilih tempat liburan ketika ingin
mendinginkan fikiran dan hati karena padatnya kehidupan di kota kebanyakan
memilih berliburan di daerah - daerah pedesaan.
Jadi
intinya, masyarakat perkotaan secara tidak langsung membutuhkan adanya
masyarakat pedesaan, begitu pula dengan sebaliknya, masyarakat pedesaan juga
membutuhkan keberadaan masyarakat perkotaan, meskipun keduanya memiliki
perbedaan ciri-ciri dan aspek-aspek yang terdapat di dalam diri mereka.
Keduanya memiliki aspek positif dan aspek negatif yang saling mempengaruhi keduanya
dan saling berkesinambungan.
Sumber: